Piagam

Logo STI Arti Lambang

P I A G A M
S A N G H A    T H E R A V A D A    I N D O N E S I A

Pembukaan

” Handadani bhikkhave amantayami vo, vayadhamma sankhara appamadena sampadetha’ti”
Ayam Tathagatassa pacchima vaca

” Kini, para bhikkhu, Kusabdakan pada kalian,
Segala bentukan sewajarnya mengalami kelapukan, Sempurnakanlah tujuan dengan tanpa kelengahan”
Ini adalah sabda Tahtagatha yang terakhir

Digha Nikaya, 16

Bahwa sesungguhnya Kebenaran Mulia tentang dukkha, sebab munculnya dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha telah ditemukan dan dibabarkan dengan sempurna oleh Yang Maha Suci Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan hingga kini tetap terpelihara secara lengkap dan sempurna dalam Kitab Suci Tipitaka Pali.

Bahwa di samping Ajaran Suci tersebut, berkat kebijaksanaan luhur Beliau, Yang Maha Sempurna Buddha Gotama telah mendirikan Bhikkhu Sangha sebagai wadah bagi setiap insan yang berniat dan bertekad untuk melaksanakan sila (kemoralan), samadhi (keteguhan batin) dan panna (Kebijaksanaan) secara tekun dan sempurna guna mencapai tujuan terakhir Nibbana, serta menjadi suri teladan kehidupan suci dan kebersihan batin bagi umat yang masih berkecimpung dalam kehidupan masyarakat ramai.

Bahwa sesungguhnya Ajaran Suci Buddha Gotama beserta Bhikkhu Sangha yang telah Beliau dirikan dan yang telah berurat berakar di bumi persada sejak zaman bahari dan kemudian mekar berkembang bersamaan dengan kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia, adalah sejalan dengan cita-cita Bangsa Indonesia yang terumus dalam falsafah Pancasila Dasar Negara serta Undang-undang Dasar 1945, untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial.

Maka, untuk memberikan wadah kelembagaan bagi Ajaran Suci Buddha Gotama serta para bhikkhu Theravada warga negara Indonesia dalam melaksanakan cita-cita tersebut di atas, dibentuklah Sangha Theravada Indonesia dan disusunlah piagam Sangha Theravada Indonesia yang sesuai Kitab Suci Tipitaka Pali dengan berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia.

Pasal I
Bentuk, Azas, dan Fungsi Sangha Theravada Indonesia

  1. Sangha Theravada Indonesia merupakan kelanjutan Sangha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, yang merupakan persamuhan para bhikkhu warga negara Indonesia yang telah menjalani upasampada (penahbisan menjadi bhikkhu) menurut Dhammavinaya serta melaksanakan Buddhadhamma berdasarkan Kitab Suci Tipitaka Pali.
  2. Sangha Theravada Indonesia berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Republik Indonesia.
  3. Sangha Theravada Indonesia menghayati dan memelihara ajaran Buddha Gotama yang tercantum dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, serta memberikan pembinaan kepada para bhikkhu Theravada dalam meningkatkan penghayatan ajaran suci Buddhadhamma, sehingga dapat menjadi bhikkhu yang berbudi luhur dan dapat membina kehidupan mental spiritual umat Buddha Indonesia berdasar pada ajaran suci Buddhadhamma.
  4. Dalam melaksanakan fungsinya seperti tercantum dalam ayat 3 pasal ini, Sangha Theravada Indonesia :
    • Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan seluruh umat Buddha/lembaga-lembaga umat Buddha yang menganut Dhammavinaya menurut Kitab Suci Tipitaka Pali.
    • Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan semua golongan Agama Buddha lainnya di Indonesia atas dasar saling menghormati demi keagungan Buddhadhamma di Indonesia.
    • Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan pemerintah dan masyarakat luas di Indonesia dalam membina kerukunan kehidupan beragama sesuai dengan dasar falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Pasal II
Peraturan Tata Tertib Sangha Theravada Indonesia

Sebagai kelanjutan dari Sangha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sangha Theravada Indonesia memiliki peraturan Tata Tertib yang terdiri dari:

  1. Patimokkha (Tuntunan Pelaksanaan Dhamma untuk para bhikkhu di dalam Kitab Vinayapitaka).
  2. Abhisamacara (Tuntunan Pelaksanaan Dhamma serta Tatakrama di dalam Kitab Vinayapitaka).
  3. Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Persamuhan Agung Sangha Theravada Indonesia dan Rapat Pimpinan (Rapim) Sangha Theravada Indonesia yang tidak boleh bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya.

Pasal III
Struktur Organisasi Sangha Theravada Indonesia

  1. Sangha Theravada Indonesia mempunyai Persamuhan Agung (Mahasanghasabha), Dewan Sesepuh (Therasamagama), Dewan Pimpinan (Karakasanghasabha), dan Dewan Kehormatan (Adhikaranasabha).
  2. Persamuhan Agung (Mahasanghasabha) merupakan organ lembaga kedaulatan tertinggi Sangha Theravada Indonesia, yang dipimpin Kepala Sangha (Sanghapamokkha) dan Wakil Kepala Sangha (Upa-sanghapamokkha).
  3. Dewan Sesepuh (Therasamagama) merupakan organ lembaga pertimbangan agung Sangha Theravada Indonesia, yang dipimpin Ketua Dewan Sesepuh (Theranayaka) dan Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Upa-theranayaka).
  4. Dewan Pimpinan (Karakasanghasabha) merupakan organ lembaga pimpinan managerial dan operasional tinggi Sangha Theravada Indonesia, yang dipimpin Ketua Umum (Sanghanayaka) dan Ketua-ketua (Upa-sanghanayaka).
  5. Dewan Kehormatan (Adhikaranasabha) merupakan organ lembaga peradilan tinggi organisasi dan Dhammavinaya, yang dipimpin oleh Ketua (Adhikarananayaka) dan Wakil Ketua (Upa-adhikarananayaka).
  6. Masa bakti Kepala Sangha (Sanghapamokkha) dan Wakil Kepala Sangha (Upa-sanghapamokkha) adalah 5 (lima) tahun, dan dapat dipilih kembali.
  7. Masa bakti Ketua/Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Theranayaka/Upa-theranayaka), Ketua Umum/Ketua-ketua Dewan Pimpinan (Sanghanayaka/Upa-sanghanayaka), dan Ketua/Wakil Ketua Dewan Kehormatan (Adhikarananayaka/Upa-adhikarananayaka) adalah 5 (lima) tahun, dapat dipilih dua kali berturut-turut, dan setelah sekurang-kurangnya satu periode berlalu dapat dipilih kembali.
  8. Persamuhan Agung (Mahasanghasabha) Sangha Theravada Indonesia terdiri dari para bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia yang telah mendapat nissayamuttaka dan telah menjadi anggota Sangha Theravada Indonesia sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.
  9. Persamuhan Agung (Mahasanghasabha) Sangha Theravada Indonesia diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun, dan mengambil keputusan-keputusan yang mengutamakan musyawarah mufakat, yang tidak boleh bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut Kitab Suci Tipitaka Pali.

Pasal IV
Kewajiban Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia

  1. Mendalami Buddhadhamma sesuai dengan Kitab Suci Tipitaka Pali.
  2. Melatih diri dalam pelaksanaan Vinaya yang diwariskan oleh Buddha Gotama, menaati keputusan-keputusan Persamuhan Agung Sangha Theravada Indonesia dan Keputusan-keputusan Rapat Pimpinan Sangha Theravada Indonesia, serta peraturan-peraturan vihara di mana ia menetap sejauh tidak bertentangan dengan Vinaya kebhikkhuan.
  3. Melatih diri dalam pengembangan batin (bhavana) sesuai dengan Kitab Suci Tipitaka Pali.
  4. Menjadi tumpuan keyakinan (saddha) dan bakti umat Buddha, serta menjadi teladan yang baik sebagai bhikkhu yang pantas menerima persembahan dari masyarakat.
  5. Menambah pengetahuan lain yang memiliki kaitan dengan Dhamma atau pembabaran Dhamma.
  6. Sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya mengajarkan Dhamma demi ketenteraman dan kebahagiaan banyak orang.
  7. Membina dan memelihara kehidupan vihara sebagai tempat tinggal para bhikkhu yang nyaman untuk pelaksanaan Dhammavinaya, tempat kegiatan keagamaan, tempat berkumpul umat setempat untuk melakukan kegiatan pendidikan, kegiatan kepustakaan, dan sebagainya.
  8. Memberi tuntunan kepada umat di tempat ia berdiam untuk berusaha mencapai kesejahteraan serta mendorong mereka untuk aktif dalam pembangunan Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
  9. Memberi anjuran dan tuntunan kepada masyarakat untuk memelihara warisan budaya nasional yang bernuansa Buddhis, seperti: candi-candi, bangunan bersejarah, benda-benda kesenian, kesusasteraan dan sebagainya.

Pasal V
Penutup

Perubahan-perubahan terhadap ketentuan-ketentuan dalam Piagam ini hanya dapat dilakukan oleh Persamuhan Agung Sangha Theravada Indonesia secara seksama dan tidak bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut Kitab Suci Tipitaka Pali.